Rabu, 14 Juni 2017

SELAT PANJANG, RIAU GREEN.COM - Rabu (14/6/17) sekitar pukul 17.00 WIB, bertempat di Jalan Merdeka, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, Satlantas Kepulauan Meranti 'hadang' alias menyetop pengendara yang lewat dengan tujuan membagikan ta'jil.

Pelaksanaan kegiatan ini langsung dipimpin oleh Ipda Bonardo Purba SH selaku KBO Sat Lantas dan didampingi oleh Para Kanit dan personil Sat Lantas berjumlah sekitar 23 orang. 

Sasaran dalam kegiatan berbagi Ta'jil ini yaitu kepada pengendara sepeda motor yang melintasi tepat didepan Mako Satlantas Kepulauan Meranti. Adapun dalam kesempatan ini Sat Lantas Polres Kepulauan Meranti menyediakan ta'jil yang akan dibagikan kepada masyarakat yang melintas diperkirakan sebanyak 400 ta'jil. 

Dengan kegiatan berbagi Ta'jil ini yang bertujuan agar pihak kepolisian dapat menjalin silahturahmi kepada masyarakat dan sekaligus juga dapat menjaga hubungan yang erat kepada masyarakat terutama para pengguna jalan, Kegiatan ini juga mendapat respon yang baik dari para pengguna jalan yang pada saat itu sedang melintasi di sekitar Jalan Merdeka.

Kapolres Kepulauan Meranti AKBP Barliansyah SIk, melalui Paur Humas Iptu Djonni Rekmamora, Rabu (14/6/17) sore, membenarkan adanya kegiatan berbagi ta'jil tersebut.

"Masyarakat yang menerima ta'jil terlihat antusias dan senang kepada pihak kepolisian , masyarakat juga menyampaikan ungkapan rasa terimakasih kepada pihak kepolisian," ujarnya. (gun)

EKONOMI BATAM MAKIN MEMBURUK

BATAMNEWS.CO.ID, Batam - Ribuan warga Batam diperkirakan memutuskan cabut dari Batam setiap bulannya. Angkanya setiap bulan di atas seribu orang. Mereka meninggalkan Batam dengan berbagai alasan. Yang pasti, terkait memburuknya ekonomi dan PHK menjadi salah satu alasan utamanya.
Data tersebut tercatat di Dinas Kependudukan Kota Batam. Itu belum termasuk yang tidak melaporkan kepindahannya ke kota lain.
"Bulan Mei jumlahnya meningkat," ujar Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan dan Pendaftarana Penduduk Disdukcapil Batam, Muhammad Teddy Nuh kepada Batamnews, Selasa (13/6/2017).
Berdasarkan data yang diperoleh, di Bulan April jumlah surat keterangan pindah sebanyak 1.190 lembar sementara yang datang ke Batam berkisar 1.985 orang. 
Baca juga:

Kepindahan warga Batam ini secara besar-besaran dari Batam ini diduga tak lepas dari deraan PHK dan ekonomi yang kian lesu. Bank Indonesia mencatat, di triwulan pertama ini, pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Riau hanya 2,02 persen.
Terburuk di Sumatera. Grafik pertumbuhan ekonomi ini dari tahun ke tahun menunjukkan tren negatif. Di tahun sebelumnya, 2016, pertumbuhan ekonomi sekitar 4 persen lebih, dan di tahun 2015 sekitar 5 persen.
Data tersebut tentu saja tidak dibuat-buat. Bank Indonesia memiliki indikator tersendiri dalam melakukan survei.
Selain itu, Dinas Tenaga Kerja Kota Batam mencatat ada sekitar 23 perusahaan yang tutup serta hengkang di tahun 2017. Jumlah pengangguran juga tak sedikit mencapai 200 ribu orang. Hampir sekitar 20 persen lebih jumlah penduduk Batam yang kini mencapai 1,2 juta jiwa.
Tak heran, ribuan orang yang kehilangan harapan, memutuskan untuk pulang kampung dan tak kembali lagi. ”Ya, beberapa minggu ini jumlah keluar batam mengalami kenaikan dari biasa," kata Teddy Nur.
Teddy Nur tak dapat menampik, kepergian orang-orang tersebut keluar Batam, tak lepas dari kondisi ekonomi saat ini dan pengangguran. 
Baca juga:

"Biasanya pendatang yang paling banyak. Di bulan ini malah yang keluar yang naik. Dengan alasan yang beragam," katanya.
Ia mengungkapkan, dalam satu hari pemohon yang mengurus surat keluar Batam rata-rata 80 hingga 90 berkas. Sementara yang masuk ke Batam, berkisar 80 hingga 100 orang. Mereka yang masuk bisa jadi tengah mencari pekerjaan dan tidak mengetahui kondisi Batam.
Pengajuan surat pindah dari kota Batam lebih banyak akan menuju pulau Jawa. 
Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Kepri, Akhmad Ma’ruf Maulana, juga tak lepas dari keluhan. Kondisi ekonomi saat ini terburuk sepanjang sejarah Batam atau Kepri. 
“Ini sejarah terburuk pertumbuhan ekonomi,” ujar pria yang akrab disapa Ma’ruf itu. Maruf tak segan-segan, kebijakan yang diambil BP Batam serta tidak adanya upaya dari pemerintah Kota Batam dan Provinsi Kepri memperbaiki hal itu semakin memperparah kondisi dan iklim investasi.
“Malah mereka asyik ribut saja terus,” ujar Ma’ruf. Saat ini, kata Ma’ruf, pengusaha juga merasa dipersulit, terutama pengusaha lokal dalam mengurus sejumlah perizinan dan birokrasi. “Uang habis buat ngurus itu aja,” ujar dia.
Belum lagi kritikan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepri, Ir Cahya, terhadap pemerintah. Tak hanya BP Batam, namun kebijakan Gubernur Kepri terasa kian memberatkan. Ujung-ujungnya, yang menjadi korban tak hanya pengusaha, tapi ribuan tenaga kerja yang bergantung kepada pengusaha.
“Para pemimpin pemerintah, kami sudah tak sanggup lagi,” ujar Cahya seolah mengibarkan bendera putih. Menurut Cahya, banyak kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan pengusaha. Baik dari segi tarif lahan serta layanan lainnya, kenaikan pajak, rencana kenaikan tarif air bersih, kenaikan UMS, UMK, dan lainnya.
“Siapa yang tanggungjawab kalau pengangguran sampai ratusan ribu?” ujar Cahya. Menurutnya, lapangan pekerjaan sudah pasti diciptakan para pengusaha, sementara, ruang gerak pengusaha seolah semakin dipersulit.
“Batam di ambang kolaps,” ujar Cahya. Cahya meyakini, bila kondisi ini dibiarkan terus menerus, bukan tidak mungkin, akan semakin memperburuk keadaan. Pengangguran akan semakin meningkat. Investasi memburuk. Tak heran, ekonomi pun bakalan anjlok lebih parah.***

Minggu, 11 Juni 2017

SELAT PANJANG DESAKU

Kota Selatpanjang merupakan pusat pemerintahan kabupaten Kepulauan Meranti, duhulu merupakan salah satu bandar (kota) yang paling sibuk dan terkenal perniagaan di dalam kesultanan Siak. Bandar ini sejak dahulu telah terbentuk masyarakat heterogen, terutama suku Melayu dan Tionghoa, karena peran antar merekalah terbentuk erat dalam keharmonisan kegiatan kultural maupun perdagangan. Semua ini tidak terlepas ketoleransian antar persaudaraan. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang barang maupun manusia dari China ke nusantara dan sebaliknya. 13768810731748867192 BANGUNAN TUA KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI (RIAU) Daerah Selatpanjang dan sekitarnya sebelumnya merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang merupakan salah satu kesultanan terbesar di Riau saat itu.Pada masa pemerintahan Sultan Siak VII yaitu Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi ( yang bertahta tahun 1784 - 1810 ), biasa disapa Sultan Syarif Ali, memberi titah kepada Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha untuk mendirikan Negeri atau Bandar di Pulau Tebing Tinggi. Selain tertarik pada pulau itu juga karena Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi sendiri pernah singgah ke daerah itu, tujuan utama Sultan Syarif Ali ingin himpun kekuatan melawan kerajaan Sambas ( Kalimantan Barat ) yang terindikasi bersekutu dengan Belanda yang telah khianati perjanjian setia dan mencuri mahkota Kerajaan Siak. Negeri atau Bandar ini nantinya sebagai ujung tombak pertahanan ketiga setelah Bukit Batu dan Merbau'' untuk menghadang penjajah dan lanun. 1376881159540703076 DAERAH,KOTA TUA KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI Maka bergeraklah armadanya dibawah pimpinan Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha pada awal Muharram tahun 1805 Masehi diiringi beberapa pembesar Kerajaan Siak, ratusan laskar dan hulu balang menuju Pulau Tebing Tinggi. Mereka tiba di tebing Hutan Alai( sekarang Ibukota Kecamatan Tebingtinggi Barat ). Panglima itu segera menghujam kerisnya memberi salam pada Tanah Alai.Tanah Alai tak menjawab, Ia meraup tanah sekepal, terasa panas. Ia melepasnya,“Menurut sepanjang pengetahuan den, tanah Alai ini tidak baik dibuat sebuah negeri karena tanah Hutan Alai adalah tanah jantan, Baru bisa berkembang menjadi sebuah negeri dalam masa waktu yang lama,” kata sang panglima dihadapan pembesar Siak dan anak buahnya. Panglima bertolak menyusuri pantai pulau ini. Lalu, terlihat sebuah tebing yang tinggi. “Inilah gerangan yang dimaksud oleh ayahanda Sultan Syarif Ali,” pikirnya. Armada merapat ke Tebing Tanah Tinggi bertepatan tanggal 07 April 1805 Masehi. Di usia masih 25 tahun itu, dengan mengucap bismillah Panglima melejit ke darat yang tinggi sambil memberi salam. “Alha-mdulillah tanah tinggi ini menjawab salam den,” katanya. Tanah diraupnya, terasa sejuk dan nyaman. Ia tancapkan keris di atas tanah (lokasinya sekarang kira-kira dekat komplek kantor Bea Cukai Selatpanjang ). Sambil berkata, “Dengarkanlah oleh kamu sekalian di tanah Hutan Tebing Tinggi inilah yang amat baik didirikan sebuah negeri. Negeri ini nantinya akan berkembang aman dan makmur apabila pemimpin dan penduduknya adil dan bekerja keras serta menaati hukum-hukum Allah.” Panglima itu berdiri tegak dihadapan semua pembesar kerajaan, laskar, hulu balang, dan bathin-bathin sekitar pulau. “Den bernama Tengku Bagus Saiyid Thoha Panglima Besar Muda Siak Sri Indrapura. Keris den ini bernama Petir Terbuka Tabir Alam Negeri. Yang den sosok ini den namakanNegeri Makmur Kencana Bandar Tebing Tinggi.”itulah nama asal muasal kota selatpanjang. Setelah menebas hutan, membuka wilayah kekuasaan, berdirilah istana panglima besar itu. Pada 1810 Masehi Sultan Syarif Ali mengangkat Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha itu sebagai penguasa pulau. Kala itu, sebelah timur negeri berbatasan dengan Sungai Suir dan sebelah barat berbatasan dengan Sungai Perumbi,seiring perkembangan waktu bandar ini semakin ramai dan bertumbuh sebagai salah satu bandar perniagaan di kesultanan siak. Ramai interaksi perdagangan didaerah pesisir Riau inilah menyebabkan pemerintahan Hindia Belanda ikut ambil dalam bagian penentuan nama negeri ini. Sejarah tercatat pada masa Sultan Siak yang ke 11 yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Pada tahun 1880, pemerintahan di Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi dikuasai oleh J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi yang bergelar Tuan Temenggung Marhum Buntut (Kepala Negeri yang bertanggung jawab kepada Sultan Siak). Pada masa pemerintahannya di bandar ini terjadilah polemik dengan pihak Pemerintahan Kolonial Belanda yaitu Konteliur Van Huis mengenai perubahan nama negeri ini, dalam sepihak pemerintahan kolonial Belanda mengubah daerah ini menjadi Selatpanjang, namun tidak disetujui oleh J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi selaku pemangku daerah. Akhirnya berdasarkan kesepakatan bersama pada tanggal 4 September 1899, Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi berubah menjadi Negeri Makmur Bandar Tebingtinggi Selatpanjang.J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi mangkat pada tahun 1908. Seiring waktu masa diawal Pemerintahan Republik Indonesia, kota selatpanjang dan sekitarnya ini merupakan Wilayah Kewedanan di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Tebingtinggi.Pada tanggal 19 Desember 2008,daerah selatpanjang dan sekitarnya ini berubah menjadi Kabupaten Kepulauan Meranti memekarkan diri dari Kabupaten bengkalis dengan ibukota Selatpanjang. 13768813322064566064 TAMAN CIK PUAN 13768814301174330403 TELAGA BENING,KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI Taman Cikpuan dan Kolam Telaga Bening di tengah kota Selat Panjang, punya nilai sejarah. Ditaman Cikpuan ini banyak peristiwa terjadi dan bernilai Sejarah, sejak dari yang sederhana seperti tempat menampilkan pentas seni sampai peristiwa politik yang heroik juga selalu berlangsung disini. Pemekaran Kabupaten Kepulauan Meranti lepas dari induk Kabupaten Bengkalis beberapa agenda yang melibatkan massa yang besar berlangsung di arena ini, Taman Cikpuan menjadi saksi sejarah. Disamping itu, Kolam Telaga Bening di jalan Merdeka tidak jauh dari Cikpuan Park adalah penopang air untuk masyarakat Selat Panjang, jika musim kemarau tiba kolam ini menjadi tumpuan untuk mendapatkan air buat mandi dan Cuci bahkan untuk minum. Harapan kedepan,objek wisata yang ada dikabupaten kepulauan meranti terus di perhatikan,dan masyarakat bisa menjaga dan melestarikan dengan baik.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/dedihamid/sejarah-kota-tua-selat-panjang-daerah-kab-kepulauan-meranti_552fffe96ea834de038b4581













SELAT PANJANG, RIAU GREEN.COM - Rabu (14/6/17) sekitar pukul 17.00 WIB, bertempat di Jalan Merdeka, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten...